Mengenal Pengurus NU Hingga ke Tingkat Desa

Dipublikasikan oleh , ~3 min
Mengenal Pengurus NU Hingga ke Tingkat Desa

Ada pertanyaan sederhana yang jawabannya ternyata tidak sederhana: siapa pengurus NU di MWC Sukabumi Utara? Berapa orang? Kapan SK mereka berakhir? Apakah ada pengurus yang rangkap jabatan di Lembaga? Siapa yang menjadi Ketua Tanfidziyah-nya?

Dua tahun lalu, pertanyaan-pertanyaan itu sulit dijawab dari Jakarta. Bukan karena tidak ada yang tahu, tapi karena datanya tersebar — di file komputer pengurus setempat, di folder Google Drive yang aksesnya terbatas, atau di tumpukan dokumen fisik yang tidak pernah dilaporkan ke atas.

Ini bukan masalah kecil. Ini adalah masalah tata kelola mendasar.

Ketika Data Menjadi Kekuatan

Gus Yahya pernah menegaskan bahwa jika PBNU tidak mengetahui seluk-beluk yang terjadi di berbagai tingkat struktural, maka PBNU mengalami disfungsi. Organisasi yang disfungsi tidak bisa menjalankan tanggung jawabnya kepada jamaah dengan baik.

Digdaya Kepengurusan hadir sebagai jawaban langsung atas masalah itu. Platform ini dirancang untuk mengelola berbagai data kepengurusan NU secara menyeluruh — mencakup informasi pengurus, status SK, agenda kegiatan, absensi, dan kapasitas kinerja di semua tingkatan organisasi.

Hari ini, sistem ini telah mendokumentasikan 2.246 Surat Keputusan aktif dengan 43.530 pengurus yang terdata — dari PBNU pusat hingga tingkat MWC. Data ini bukan statis; ia terus diperbarui seiring dengan proses pengajuan SK baru dan pembaruan kepengurusan yang berjalan.

Absensi yang Bicara

Salah satu fitur yang ternyata paling dirasakan dampaknya oleh pengurus di lapangan adalah absensi digital. Dalam rapat-rapat kepengurusan, absensi manual selalu menjadi masalah kecil yang berulang: kertas absen hilang, tanda tangan dipalsukan, atau laporan kehadiran tidak pernah dikompilasi menjadi data yang berarti.

Dengan absensi digital yang terintegrasi dengan Digdaya NU App, setiap kehadiran tercatat secara otomatis dan tersinkronisasi ke sistem. Data kehadiran menjadi bagian dari penilaian kapasitas kinerja pengurus — sebuah langkah kecil, tapi bermakna besar untuk akuntabilitas organisasi.

Di PWNU Bengkulu, pengalaman ini dirasakan langsung. Mulai dari absensi barcoding hingga AI-NU untuk rujukan AD/ART, Digdaya membantu kepengurusan menjadi lebih tertib, efisien, dan akuntabel — serta memperkuat khidmah pengurus dalam melayani jamaah.

Menuju Data yang Hidup

Yang membedakan Digdaya Kepengurusan dari sekadar database adalah sifatnya yang terintegrasi. Data pengurus terhubung dengan data kaderisasi — sehingga rekam jejak kader seorang pengurus bisa dilihat dalam satu sistem. Pengajuan SK baru bisa dilakukan langsung dari platform, mengalir ke Digdaya Persuratan, dan hasilnya kembali tercatat di Kepengurusan.

Ini adalah ekosistem data yang hidup — bukan arsip mati yang hanya dibuka saat audit.

Ketika PBNU ingin mengetahui siapa pengurus di MWC mana pun di Indonesia, jawabannya kini ada. Bukan di file yang tersebar, tapi dalam satu sistem yang terhubung. Satu langkah nyata menuju NU yang benar-benar mengenal dirinya sendiri.

Bagikan Artikel

Tags

Tidak ada tags untuk artikel ini
background
logo

Digdaya NU adalah platform digitalisasi data dan pelayanan Nahdlatul Ulama yang berperan sebagai pusat integrasi, pengelolaan, dan visualisasi data untuk mendukung transparansi, kolaborasi, serta transformasi digital ekosistem NU.


© Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2026. All rights reserved.