Untuk Pertama Kalinya, Ribuan Pesantren NU Bisa Ditemukan Siapa Saja

Dipublikasikan oleh , ~3 min
Untuk Pertama Kalinya, Ribuan Pesantren NU Bisa Ditemukan Siapa Saja

Sepasang orang tua di Surabaya ingin mondokkan anak mereka. Mereka mendengar ada pesantren bagus di Magelang, tradisi ilmunya kuat, lingkungannya kondusif, alumninya tersebar ke mana-mana. Tapi pesantren itu tidak punya website. Tidak ada di Google. Satu-satunya cara untuk tahu adalah menelepon kenalan yang kebetulan pernah mondok di sana.

Cerita seperti ini berulang jutaan kali di Indonesia setiap tahun. Di negara dengan lebih dari 37.000 pesantren, yang sebagian besar di bawah naungan NU, menemukan pesantren yang tepat masih bergantung pada jaringan informal, mulut ke mulut, dan faktor keberuntungan.

Portal Pesantren NU hadir untuk mengubah itu.

Pertama Kalinya: Satu Basis Data Publik

Sebelum ada Portal Pesantren NU, tidak ada satu pun platform publik yang menyajikan data pesantren NU secara terverifikasi dan bisa dicari secara digital. Datanya sebenarnya ada, tersebar di berbagai sistem dan lembaga, hanya saja tidak terhubung, tidak bisa diakses publik, dan tidak lengkap.

Portal Pesantren NU mengubah itu dengan menjadi portal publik pertama yang berisi data pesantren yang sudah tervalidasi. Bukan sekadar daftar nama, tapi profil lengkap: lokasi, jumlah santri, jumlah ustadz, kurikulum, fasilitas, hingga informasi kontak.

Saat ini portal sudah menaungi lebih dari 2.200 pesantren, dengan lebih dari 3.200 ustadz/ustadzah dan lebih dari 27.000 santri yang datanya tercatat. Sebarannya sudah menjangkau puluhan kabupaten/kota di lebih dari 20 provinsi, mulai dari Jawa Tengah sebagai basis terbesar, disusul Banten, Jawa Timur, dan Yogyakarta, hingga wilayah luar Jawa seperti Bengkulu, Lampung, dan Sumatera. Pilot project sendiri berjalan di lima wilayah: Yogyakarta, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten, wilayah yang tingkat keaktifan datanya paling terukur.

Marketplace Kepercayaan

Yang menarik dari Portal Pesantren NU bukan cuma fungsinya sebagai direktori. Lebih dari itu, PBNU kini punya marketplace informasi pesantren yang terpercaya, tempat data pesantren bisa diverifikasi, diperbarui, dan diandalkan oleh siapa pun yang mengaksesnya.

Kepercayaan memang modal utama dalam ekosistem pesantren. Orang tua tidak hanya mencari pesantren yang dekat atau yang terkenal, tapi pesantren yang bisa dipercaya, dan itu dimulai dari data yang transparan dan terverifikasi.

Setiap pesantren yang masuk portal sudah melalui proses validasi oleh RMI (Rabithah Ma'ahid Islamiyah) daerah setempat. Jadi data yang tersaji bukan sekadar klaim, melainkan informasi yang sudah diverifikasi oleh lembaga yang bertanggung jawab.

Mendorong Partisipasi Daerah

Ada efek samping positif dari kehadiran Portal Pesantren NU. RMI daerah jadi lebih terdorong untuk aktif mendata. Begitu ada platform yang siap menampilkan data, muncul insentif nyata untuk melengkapinya, sebab pesantren yang tidak terdata di portal sama saja dengan pesantren yang tidak bisa ditemukan calon santri baru. Platform butuh data, data butuh keaktifan daerah, dan keaktifan daerah pada akhirnya menghasilkan ekosistem informasi yang makin lengkap.

Orang tua di Surabaya itu kini bisa membuka portal, mencari pesantren di Magelang, membaca profilnya, dan membandingkannya dengan pilihan lain, semuanya dari layar ponsel. Bukan lagi bergantung pada telepon ke kenalan yang mungkin tidak angkat.

Bagikan Artikel

Tags

Tidak ada tags untuk artikel ini