"Kita membangun pondasi agar 100 tahun berikutnya jauh lebih kuat. — KH. Yahya Cholil Staquf"
Ada sebuah paradoks yang indah dalam kepemimpinan Gus Yahya: ia memimpin organisasi yang sudah merayakan satu abad keberadaannya, tapi cara ia memimpinnya adalah cara seseorang yang sedang membangun sesuatu dari awal. Bukan merenovasi bangunan lama. Tapi meletakkan fondasi baru di bawah bangunan yang sudah berdiri menjadi sebuah pekerjaan yang jauh lebih rumit, jauh lebih tidak terlihat, dan jauh lebih penting. Fondasi itu bernama Digdaya.
Apa yang Sudah Kita Capai
Dalam beberapa tahun terakhir, NU telah membangun sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: infrastruktur digital tata kelola organisasi yang menjangkau dari pusat hingga tingkat bawah.
Digdaya Persuratan kini mengelola lebih dari 85.000 surat (baik keluar dan masuk) dari 586 kepengurusan di seluruh Indonesia dan mendapatkan pengakuan internasional melalui nominasi WSIS Prize 2025. Digdaya Kepengurusan telah mendokumentasikan 2.246 SK aktif dengan 43.530 pengurus terdata. Digdaya Kader telah mencatat 142.796 kader dari 1.796 agenda kaderisasi. Portal Pesantren NU telah membuka akses publik ke 1.506 pesantren yang sebelumnya hanya bisa ditemukan lewat mulut ke mulut. Dan Digdaya AI-NU kini hadir sebagai asisten cerdas yang membantu pengurus di seluruh Indonesia mengakses aturan, membuat surat, dan menavigasi sistem. Ini bukan rencana. Ini sudah berjalan. Hari ini.
Baru Separuh Perjalanan
Tapi Gus Yahya tidak pernah membiarkan pencapaian ini menjadi alasan untuk berhenti. Ada sebuah kalimat yang ia tegaskan berulang kali: apa yang sudah kita capai baru separuh dari perjalanan yang sesungguhnya. Separuh yang belum tercapai itu besar. Seluruh 548 PCNU, lebih dari 7.000 MWC, dan 61.000 ranting di seluruh Indonesia harus terhubung dalam satu sistem yang sama. Layanan digital harus diperluas ke seluruh domain kehidupan warga NU: kesehatan, pendidikan, ekonomi, dakwah, filantropi. Dan budaya digital harus tumbuh tidak hanya di kantor PBNU Jakarta, tapi di setiap kantor PCNU, di setiap MWC, di setiap ranting desa.
Yang Sedang Dibangun
Beberapa produk Digdaya kini sedang dalam tahap pengembangan aktif. Digdaya Masjid akan menjadi platform pengelolaan administrasi dan aktivitas masjid yang terintegrasi, menjawab kebutuhan ribuan masjid NU yang selama ini tidak terhubung ke sistem organisasi. Digdaya Filantropi akan menjadi platform transparan untuk penghimpunan dan penyaluran zakat, infak, dan sedekah. Digdaya Dashboard akan menyajikan data dan kinerja seluruh layanan Digdaya dalam satu tampilan terpusat yang bisa diakses pemimpin di setiap level.
Dalam tahap riset awal, Digdaya AgriHub akan menghubungkan petani, pemilik lahan, supplier, dan investor NU dalam satu ekosistem pertanian yang terstruktur. Digdaya Health akan mendukung layanan dan pendataan ekosistem kesehatan NU. Digdaya Media Intelligence akan memantau dan menganalisis isu dan sentimen terkait NU secara real-time sebagai dasar pengambilan keputusan strategis.
Visinya jelas: dari organisasi keagamaan yang besar, menjadi ekosistem digital yang lengkap yang hadir di setiap aspek kehidupan warga NU.
Dari Kebesaran Jumlah Menuju Kebesaran Peradaban
Ada framing yang Gus Yahya gunakan untuk menggambarkan perjalanan NU ke depan: dari kebesaran jumlah menuju kebesaran peradaban. NU sudah besar dalam jumlah yakni kurang lebih 160 juta warga, 2 juta pengurus, 61 ribu ranting. Tapi kebesaran jumlah itu belum otomatis menjadi kekuatan peradaban.
Kekuatan peradaban dibangun dari sistem yang solid, kader yang terlatih, tata kelola yang modern, dan teknologi yang dimanfaatkan secara bijak. Digdaya adalah bagian dari perjalanan menuju kebesaran peradaban itu — bukan satu-satunya jalan, tapi salah satu fondasi yang paling konkret dan paling terukur.
Transformasi seperti ini tidak selesai dalam satu periode kepemimpinan. Ia adalah pekerjaan lintas generasi. Yang bisa dilakukan hari ini adalah memastikan bahwa fondasi yang dibangun kuat, arahnya benar, dan momentum-nya tidak hilang.
NU sudah 100 tahun. Ia lahir dari tekad para ulama yang menatap tantangan zaman dengan keberanian, bukan dengan ketakutan. Seratus tahun kemudian, semangat yang sama masih relevan: menatap teknologi, perubahan, dan kompleksitas dunia modern bukan dengan ketakutan, tapi dengan keyakinan bahwa tradisi yang kuat bisa berdialog dengan zaman tanpa kehilangan dirinya.
100 tahun berikutnya dimulai hari ini. Dan ia dimulai dengan fondasi yang sedang kita bangun bersama.
— Digdaya NU, Governing NU for the Next Century —


