Bukan Aplikasi, Tapi Semesta Digital: Mengenal Digdaya

Dipublikasikan oleh , ~3 min
Bukan Aplikasi, Tapi Semesta Digital: Mengenal Digdaya

"Ah, Digdaya kan cuma aplikasi surat-menyurat."

Kalau kamu pernah dengar komentar semacam ini, kamu tidak sendirian. Dan kalau kamu percaya begitu saja, mohon maaf, kamu sedang menilai gajah dari belalainya saja.

Coba lihat Google.

Kalau logika "satu fitur mewakili semuanya" itu dipakai ke Google, harusnya Google cuma dianggap "aplikasi cari-cari doang." Padahal di dalam satu akun yang sama ada Gmail untuk email, Maps untuk navigasi, Photos untuk penyimpanan, Gemini untuk AI, YouTube untuk video, Docs untuk kerja bareng, dan masih banyak lagi.

Semuanya berbeda fungsi. Tapi tetap satu akun, saling terhubung, dan terintegrasi. Itulah yang bikin layanan Google terasa praktis dan mudah dipakai. Bukan karena satu fitur, tapi karena semuanya bekerja sebagai satu sistem.

Digdaya adalah visi besar transformasi digital NU agar seluruh layanan NU saling terhubung dalam satu ekosistem. Sederhananya seperti Google, tapi untuk kebutuhan ekosistem NU. Persuratan digital cuma satu pintu kecil dari rumah besar yang sedang dibangun. Bukan rumahnya itu sendiri.

Kenapa NU butuh Digdaya?

NU itu organisasi besar, tapi selama ini data dan layanannya tersebar ke mana-mana. Ada data warga dan pengurus, pesantren, pendidikan, kaderisasi, dakwah, kesehatan, pertanian, dan masih banyak lagi. Sebagian besar berjalan sendiri-sendiri, di sistem yang beda, dengan akun yang beda pula.

Bayangkan kalau setiap layanan punya akun dan data sendiri-sendiri. Ribet, kan? Persuratan digital yang sering jadi bahan nyinyiran itu sebenarnya cuma salah satu dari puluhan layanan yang sedang dibangun di atas fondasi yang sama.

Rumah besar digital NU

Digdaya bukan satu aplikasi. Digdaya adalah ekosistem digital NU yang menghubungkan seluruh layanan agar bekerja bersama, dengan empat target besar: satu identitas digital lewat NU.ID, satu akses login, data yang saling terhubung lewat Satu Data NU, dan layanan NU yang profesional, prima, serta transparan.

Semua dibangun bertahap, tapi menuju arah yang sama. Dan seperti rumah pada umumnya, orang yang baru lihat dari depan pintu memang wajar kalau mengira isinya cuma segitu.

Seperti apa bentuknya dalam keseharian organisasi? Selama ini, satu Pengurus Cabang (PC) bisa melapor SK kepengurusan lewat satu jalur, mendaftarkan data jamaah lewat jalur lain, dan mengurus profil pesantren di bawahnya lewat sistem yang berbeda lagi. Data yang sama harus diketik ulang, dicocokkan manual, dan gampang tidak sinkron antar sistem.

Dengan Digdaya, alurnya berubah. Saat SK kepengurusan baru diinput, data itu langsung terhubung ke NU.ID sebagai identitas digital pengurus, ke direktori organisasi yang bisa diakses PBNU maupun PW/PC lain, dan ke Portal Pesantren kalau pengurus tersebut juga mengelola pesantren. Satu kali input, datanya bekerja di banyak layanan sekaligus. Persuratan cuma salah satu titik kecil dari alur ini, bukan keseluruhannya.

Untuk siapa Digdaya NU, sekarang?

Ini bagian yang penting untuk dipahami. Digdaya NU saat ini difokuskan untuk mendukung kerja pengurus dulu, supaya tata kelola organisasi lebih profesional, terintegrasi, dan efisien.

Logikanya sederhana. Ketika tata kelola organisasi makin baik, layanan ke warga NU juga akan makin mudah, cepat, dan tepat. Fondasi ini yang sedang dibangun lebih dulu.

Tahap berikutnya, setelah fondasi organisasi ini makin kuat, Digdaya NU akan terus dikembangkan untuk kader dan warga NU, dengan layanan yang disesuaikan kebutuhan masing-masing. Jadi kalau saat ini kader atau warga NU belum merasakan langsung layanan Digdaya, itu bukan karena terlupakan. Itu karena urutannya memang bertahap: pengurus dulu, baru kader dan warga.

Membangun masa depan digital NU

Digdaya hadir supaya seluruh layanan NU nggak lagi berjalan sendiri-sendiri. Dengan ekosistem digital yang terhubung, warga NU akan lebih mudah mengakses layanan kapan pun dan di mana pun.

Jadi lain kali ada yang bilang "Digdaya kan cuma aplikasi surat," boleh dijawab santai: itu sama kayak bilang Google cuma mesin pencari.

Satu Identitas. Satu Ekosistem. Satu Standar.

Itulah Digdaya. Bukan aplikasi, tapi semesta digital.

Bagikan Artikel

Tags

Tidak ada tags untuk artikel ini