Ada pertanyaan yang wajar muncul ketika pertama kali melihat perjalanan Digdaya. Mengapa produk-produk awalnya fokus ke dalam, ke persuratan, kepengurusan, kaderisasi, dan bukan langsung ke layanan untuk 160 juta warga NU yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia? Bukankah dampak terbesar justru ada di sana?
Pertanyaan itu masuk akal. Tapi jawabannya menyimpan pelajaran penting yang sering diabaikan dalam proyek transformasi digital di organisasi besar mana pun: fondasi yang kuat adalah satu-satunya cara untuk membangun layanan yang benar-benar bisa diandalkan.
Pelajaran Pahit dari Transformasi yang Terburu-buru
Banyak organisasi besar, baik lembaga pemerintah maupun swasta, pernah membuat kesalahan yang sama. Mereka membangun aplikasi publik yang mengkilap dan diluncurkan dengan penuh kebanggaan, sementara sistem internal mereka masih kacau. Hasilnya bisa ditebak tanpa perlu data: aplikasi itu berjalan, tapi datanya tidak akurat karena sumbernya masih berantakan. Layanannya tersedia, tapi prosesnya lambat dan tidak konsisten karena di balik layar masih dikerjakan secara manual. Pengguna mengunduh aplikasinya dengan antusias, tapi pengalaman yang mereka dapat tidak sesuai dengan ekspektasi yang sudah dibangun lewat peluncuran yang meriah.
Kepercayaan yang susah payah dibangun lewat komunikasi publik bisa runtuh dalam waktu singkat, hanya karena fondasi internalnya tidak solid. Dan kepercayaan yang sudah runtuh jauh lebih sulit untuk dibangun kembali daripada kepercayaan yang belum pernah ada.
Tiga Hal yang Harus Berdiri Sebelum Layanan Dibuka
Gus Yahya menegaskan bahwa transformasi NU harus dimulai dari membenahi tiga hal mendasar: data, sistem, dan budaya kerja. Ketiganya saling bergantung dan tidak ada yang bisa dilewati begitu saja.
Tanpa data pengurus yang akurat dan terkonsolidasi, tidak ada layanan yang bisa berjalan dengan benar. Siapa yang berhak mengakses layanan NU? Siapa yang terdaftar sebagai anggota resmi? Kepengurusan mana yang aktif dan mana yang sudah tidak beroperasi? Pertanyaan-pertanyaan dasar ini harus sudah dijawab oleh sistem internal sebelum pintu layanan eksternal dibuka.
Tanpa sistem persuratan, kepengurusan, dan kaderisasi yang berjalan dengan baik, setiap layanan baru yang diluncurkan hanya akan menciptakan beban tambahan yang tidak bisa ditanggung. Sistem internal adalah tulang punggung yang menanggung berat seluruh ekosistem. Jika tulang punggungnya lemah, seluruh bangunan di atasnya rentan runtuh.
Dan tanpa budaya kerja yang berubah, semua investasi teknologi tidak akan menghasilkan transformasi yang sesungguhnya. Ini yang paling sering diabaikan. Sistem secanggih apapun tidak berguna jika pengurus di lapangan tidak mau atau tidak mampu menggunakannya. Budaya digital harus tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari, sampai akhirnya menjadi cara kerja yang natural.
Logika yang Tidak Bisa Dibalik
Bayangkan jika Digdaya langsung membangun platform layanan kesehatan untuk warga NU sebelum data keanggotaan terkonsolidasi. Platform itu akan kebingungan dari hari pertama. Siapa yang berhak mendapat layanan? Bagaimana memverifikasi keanggotaan? Siapa yang bertanggung jawab di tingkat cabang jika ada masalah? Tanpa fondasi data yang solid, platform itu bukan solusi, melainkan sumber masalah baru yang lebih kompleks.
"Melayani jamaah dengan baik dimulai dari menata diri sendiri dengan sungguh-sungguh. Tidak ada jalan pintas untuk itu."
Atau bayangkan Digdaya Filantropi diluncurkan sebelum sistem tata kelola internal berjalan dengan benar. Donasi dari warga NU masuk, tapi ke mana disalurkan? Siapa yang memverifikasi penerima manfaat? Bagaimana transparansinya dijaga jika data dasarnya saja belum rapi? Filantropi yang tidak transparan bukan hanya tidak efektif, tapi bisa menjadi bumerang yang merusak kepercayaan jamaah yang sudah susah payah dibangun selama bertahun-tahun.
Fondasi yang Sudah Mulai Berdiri
Itulah mengapa pencapaian Digdaya hari ini, dengan 586 kepengurusan terhubung, lebih dari 85.000 surat terkelola, 43.530 pengurus terdata, dan 142.796 kader tercatat, bukan sekadar angka untuk dipamerkan. Ini adalah bukti bahwa fondasi sedang berdiri. Bahwa NU sedang serius membangun dari dalam sebelum membuka ke luar.
Di atas fondasi inilah layanan untuk warga akan dibangun dengan keyakinan, bukan dengan keberuntungan. Bukan terburu-buru karena tekanan opini. Tapi karena fondasi yang kuat adalah satu-satunya cara untuk memastikan layanan itu benar-benar sampai, benar-benar bisa diandalkan, dan benar-benar memberi manfaat nyata bagi jamaah. Fondasi dulu. Baru layanan. Bukan karena lambat. Tapi karena benar.
